Saya
bisa tertawa ketika hati saya bersedih, beberapa orang menyebutnya palsu, saya
menyebutnya berani untuk lebih bahagia.
Saya
bisa tersenyum ketika hati saya penuh amarah, beberapa orang menyebutnya palsu,
saya menyebutnya berani untuk mengalah.
Dan
itu tidak mudah. Dan itu tidak pula wajib untuk kamu tiru, percayalah,
terkadang itu sangat mengerikan rasanya.
Beberapa
orang yang memaksakan diri untuk memahami saya, banyak yang bertumbangan
menghilang. Berpikir kalau saya itu begini dan begitu. Berpikir kalau saya
berpikir buruk tentang mereka, menulis hal-hal buruk tentang mereka. Padahal?
Ah, salah satu hal yang paling saya benci di dunia ini, adalah membela diri di
hadapan orang yang bahkan mampu menilai buruk orang lain tanpa bersedia untuk sekedar
bertanya; apakah kita baik-baik saja?
Ketika
mencoba menjadi orang baik saja tidak cukup untuk membahagiakan orang lain,
saya tidak lagi mengerti harus bersikap seperti apa. Saya tidak ingin hal-hal
yang mengganggu emosi saya, menjadikan saya seseorang yang saya benci sendiri.
Banyak orang yang akhirnya menjadi seseorang yang mereka tidak suka, tanpa
mereka sadari, dan saya tidak ingin jadi salah satu di antaranya. Di saat saya
melangkah pergi dari hidup seseorang, itu hanyalah upaya saya untuk menyelamatkan
diri saya sendiri. Come on, kita harus mengakui, bahwa tidak banyak orang yang
peduli pada perasaan orang lain, ketika semua orang berpikir untuk jadi yang
paling benar di atas banyak hal-hal yang sebenarnya salah. Dan berusaha untuk
tetap berpikiran waras saat di hadapkan dengan hal yang demikian, bukanlah hal
yang sederhana.
Segala
hal akan tampak salah, di mata seseorang yang terlalu senang berpikiran
buruk.
Saya
pernah membaca sebuah surat yang ditulis seorang ibu kepada anak laki-laki kesayangannya,
dia menulis:
Temukanlah
perempuan yang mampu menertawakan kemalangannya sendiri. Karena kamu tidak
perlu perempuan yang bahkan tidak bersedia melihat hal baik di dalam sebuah
‘kemalangan’.
Kamu
pun tidak pula diwajibkan untuk meniru ibu tadi. Percayalah, terkadang mencari
pasangan yang ingat untuk berbagi saat bahagia saja sulitnya minta ampun.
Dan
siang ini, saya sempat me-reetwet sebuah tweet yang berbunyi;
Too
many people are trying to find the right person instead of being the right one.
[@ILLUMINATI]
AND
THAT’S TRUE
Setiap
orang punya banyak rencana besar untuk menemukan seseorang yang terbaik yang
bisa dia mampu dapatkan, mengakhiri hubungan yang ini, dengan aggapan akan
bertemu yang lebih baik nanti, berdoa siang dan malam agar Tuhan pertemukan
dengan sosok yang mereka pikir adalah yang terbaik.
Tapi
berapa orang yang berani untuk berjalan lebih ke depan, meraih tangan
seseorang, menggenggamnya, dan berkata;
Aku
sudah berusaha menjadi yang terbaik untuk dirimu. Sepanjang hidupku, aku sudah
berusaha menjadi yang Tuhan inginkan, untuk pantas menjadi yang paling tepat
untuk kamu pilih. Aku yakin, kita bisa melewati segalanya dengan saling
memahami dan percaya. Memahami dalam kelemahan, dan percaya pada Tuhan.
Mencoba meyakinkan seseorang bahwa kitalah orang yang tepat yang selama ini dia cari, bukanlah perkara yang sederhana. Jelas melelahkan dan akan terkesan sangat dramatis. Tapi terlalu fokus mencari, hingga lupa memperbaiki diri sendiri. Itu jauh lebih dramatis.
***
Lind
adalah pribadi yang palsu, semua orang boleh bilang demikian. And it doesn’t
bother me anyway.
Saya
akan terus tersenyum selama Tuhan masih memberi kesempatan saya untuk hidup.
Saya akan selalu mencoba berani mengalah, untuk sesuatu yang hanya berisi
sebuah amarah.
Ketika
saya sudah sampai di titik di mana saya tidak lagi ingin bicara dengan
seseorang, maka dia pasti telah melampaui garis terjauh yang mampu saya
berikan, untuk dilukai.
Tapi
saya pasti memaafkan siapa pun itu. Ketika bahkan saya tidak menciptakan udara,
apa hak saya untuk merasa pantas membenci seseorang selamanya.
Kalau
kamu merasa saya tidak cukup mengerti dirimu, maka tunjukkanlah saya caranya.
Kita bersama bukan untuk saling menerka dan kemudian terluka. Inilah saya,
tidak setiap orang dilahirkan dengan kekuatan untuk selalu mengatakan padamu,
apa yang sebenarnya ia rasakan. Itulah saatnya kamu mengatakan apa yang kamu
inginkan. Sekarang, semua tergantung seberapa penting kehadiran seseorang itu
di dalam hidupmu.
I
can't escape this now. Unless you show me how. [Imagine Dragons]
PS:
Lind
selalu menulis tentang dirinya, dirinya begini, begitu, ingin yang seperti ini,
ingin diperlakukan begitu. Itulah menakjubkannya menulis. Menulis bisa
membuatmu belajar untuk memahami dirimu sendiri. Dan dengan membaca, kamu bisa
mencoba memahami seseorang, juga membangun karakter dirimu sendiri.
Dengan
menulis kamu juga bisa menjadi segala yang kamu inginkan, bahkan menjadi yang
kamu impikan sekali pun—tanpa hal itu perlu benar terjadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar