Collection

Selasa, 11 September 2012

Yang belum sempat dicintaimu



"Mungkin kita berjodoh, mungkin juga tidak. Cinta, adalah kemungkinan-kemungkinan" --Lin

...


Kalau aku ternyata tak sampai berhasil bertemu denganmu, dan Tuhan hanya memberiku selembar kertas untuk menulis pesan untukmu. Maka inilah yang akan kutuliskan.

Hai,
Hai, adalah sapaan yang entah sudah berapa ribu kali kulatih dan kubayangkan. Pertemuan seperti apa? Tatapan seperti apa? dan pelukan seperti apakahyang akan kutemukan ketika pada akhirnya kita bertemu. Walau pun, pada akhirnya kita tidak pernah bertemu.

Kau tahu, untuk apa selaman ini aku menjaga diriku, agar tetap utuh? Untukmu.
Kau tahu , untuk apa selama ini aku bersabar dalam hidup agar tetap ada? Untukmu.

Senyum,
Senyum adalah hal yang entah sudah berapa ribu kulatih dan kubayangkan. Raut seperti apa? Tarikan garis seperti apa? Jajaran gigi seperti apa? yang akan kutemukan, atau akan kah kumiliki lesung dipipi yang mirip bintang ketika pada akhirnya kita saling menemukan.Walaupun, ternyata pada akhirnya kita tidak pernah sempat dipertemukan.

Aku selalu membayangkan. Kita memiliki dua anak. Satu perempuan, dan satu laki-laki. Yang semuanya punya gabungan senyum manis milik kedua orang tuanya.

Aku selalu membayangkan, Akan bertemu dengan cara yang sederhana denganmu, Hidup dalam keluarga sederhana, lalu selalu memberi dalam 'Sayang dan iman yang menggagumkan'.

Aku selalu membayangkan, kita punya ruang sholat yang luas di rumah. Serta jendela-jendela panjang yang selalu terbuka dipagi hari. Rumah kita tidak berjarak jauh dari masjid, sehingga setiap kali adzan Subuh berkumandang, kita selalu mudah terjaga dalam sendirinya.

Aku selalu membayangkan, seakan itu pasti benar terjadi. Walau pun, ternyata pada akhirnya itu tidak pernah terjadi.

Satu yang perlu kau tahu, walaupun kau belum pernah sempat memilikiku, aku tidak pernah jadi bekas kepunyaan siapa pun. Aku tetap utuh sebagai aku, yang tak sempat kau miliki. Aku memjaga diri dan imanku semampu yang kubisa. sekuat yang kucoba, dan ini untukmu.

Kalau saja bisa aku ingin menyimpan suara tawaku untuk kau dengar. Kalau saja bisa.
Karena aku ingin kau tahu, bahwa sebelum akhirnya kau membaca surat ini. Aku adalah perempuan yang bahagia dengan hidupku. Bersyukur atas porsi nikmat yang menjadi bagianku. Bukan bagian dari mereka yang butuh berjuta alasan hanya untuk sekedar berbahagia. Seperti saat aku menulis ini, kau tahu aku bahkan terus mengulang senyum saat mencoba membayangkan parasmu ketika membacanya kelak.

Kau tahu kalau saja bisa, aku ingin menyimpan tawamu untuk kuingat. Kalau saja itu bisa. Karena berbagi bahagia denganmu adalah hal yang begitu ingin kujalani, bahkan lebih dari sepanjang hidup ini.

Mungkin bagi sebagian orang pernikahan hanya sebuah jalan agar tak sendirian hingga hari tua menjemput. Tapi bagiku tidak, karena pernikan adalah jalan yang seharusnya dapat menghantarkan kita pada kualitas iman dan hidup yang lebih baik. Dimana saat bersamanya kamu menjadi lebih bahagia dalam menjalani hari. Dimana saat bersamanya kamu kelak dapat menutup usiamu dengan lengkap. Itulah pernikahan yang selalu aku impikan kelak.

Tapi terkadang kamu tahu, kesempatan tidak selalu sepenuh yang kita harapkan. Dan tentu saja itu tak mengapa. Semua akan baik-baik saja. Tuhan nyata telah mempersiapkan seseorang yang lebih melengkapimu daripada aku

Terima kasih atas segala kesempatan untuk dapat pernah 'Memimpikan kita'

Yang belum sempat dicintaimu,

Aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar