"Mungkin kita berjodoh, mungkin
juga tidak. Cinta, adalah kemungkinan-kemungkinan" --Lin
...
Kalau aku ternyata tak sampai berhasil bertemu
denganmu, dan Tuhan hanya memberiku selembar kertas untuk menulis pesan
untukmu. Maka inilah yang akan kutuliskan.
Hai,
Hai, adalah sapaan yang entah sudah
berapa ribu kali kulatih dan kubayangkan. Pertemuan seperti apa? Tatapan
seperti apa? dan pelukan seperti apakahyang akan kutemukan ketika pada akhirnya
kita bertemu. Walau pun, pada akhirnya kita tidak pernah bertemu.
Kau tahu, untuk apa selaman ini aku
menjaga diriku, agar tetap utuh? Untukmu.
Kau tahu , untuk apa selama ini aku
bersabar dalam hidup agar tetap ada? Untukmu.
Senyum,
Senyum adalah hal yang entah sudah
berapa ribu kulatih dan kubayangkan. Raut seperti apa? Tarikan garis seperti
apa? Jajaran gigi seperti apa? yang akan kutemukan, atau akan kah kumiliki
lesung dipipi yang mirip bintang ketika pada akhirnya kita saling
menemukan.Walaupun, ternyata pada akhirnya kita tidak pernah sempat
dipertemukan.
Aku selalu membayangkan. Kita memiliki
dua anak. Satu perempuan, dan satu laki-laki. Yang semuanya punya gabungan
senyum manis milik kedua orang tuanya.
Aku selalu membayangkan, Akan bertemu
dengan cara yang sederhana denganmu, Hidup dalam keluarga sederhana, lalu
selalu memberi dalam 'Sayang dan iman yang menggagumkan'.
Aku selalu membayangkan, kita punya
ruang sholat yang luas di rumah. Serta jendela-jendela panjang yang selalu
terbuka dipagi hari. Rumah kita tidak berjarak jauh dari masjid, sehingga setiap
kali adzan Subuh berkumandang, kita selalu mudah terjaga dalam sendirinya.
Aku selalu membayangkan, seakan itu
pasti benar terjadi. Walau pun, ternyata pada akhirnya itu tidak pernah
terjadi.
Satu yang perlu kau tahu, walaupun kau
belum pernah sempat memilikiku, aku tidak pernah jadi bekas kepunyaan siapa
pun. Aku tetap utuh sebagai aku, yang tak sempat kau miliki. Aku memjaga diri
dan imanku semampu yang kubisa. sekuat yang kucoba, dan ini untukmu.
Kalau saja bisa aku ingin menyimpan
suara tawaku untuk kau dengar. Kalau saja bisa.
Karena aku ingin kau tahu, bahwa
sebelum akhirnya kau membaca surat ini. Aku adalah perempuan yang bahagia
dengan hidupku. Bersyukur atas porsi nikmat yang menjadi bagianku. Bukan bagian
dari mereka yang butuh berjuta alasan hanya untuk sekedar berbahagia. Seperti
saat aku menulis ini, kau tahu aku bahkan terus mengulang senyum saat mencoba
membayangkan parasmu ketika membacanya kelak.
Kau tahu kalau saja bisa, aku ingin
menyimpan tawamu untuk kuingat. Kalau saja itu bisa. Karena berbagi bahagia
denganmu adalah hal yang begitu ingin kujalani, bahkan lebih dari sepanjang
hidup ini.
Mungkin bagi sebagian orang pernikahan
hanya sebuah jalan agar tak sendirian hingga hari tua menjemput. Tapi bagiku
tidak, karena pernikan adalah jalan yang seharusnya dapat menghantarkan kita
pada kualitas iman dan hidup yang lebih baik. Dimana saat bersamanya kamu
menjadi lebih bahagia dalam menjalani hari. Dimana saat bersamanya kamu kelak
dapat menutup usiamu dengan lengkap. Itulah pernikahan yang selalu aku impikan
kelak.
Tapi terkadang kamu tahu, kesempatan
tidak selalu sepenuh yang kita harapkan. Dan tentu saja itu tak mengapa. Semua
akan baik-baik saja. Tuhan nyata telah mempersiapkan seseorang yang lebih
melengkapimu daripada aku
Terima kasih atas segala kesempatan
untuk dapat pernah 'Memimpikan kita'
Yang belum sempat dicintaimu,
Aku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar