Sedang kangen.
Jangan tanya pada siapa. Jika kangen saja butuh alasan, saya akan
berpikir dua kali untuk mencintai
Karena cinta dan kangen adalah sepasang bubuk kopi dan susu di
dalam bungkus kopi susu sachet. Siapa yang sanggup memisahkan
butiran-butirannnya. Mereka ada, untuk diseduh dengan air hangat. Ada untuk
dinikmati.
Bukan untuk dipertanyakan.
Sedang kangen.
Baiklah ku alamatkan kangen ini kepadamu. Kutitipkan pada pak pos,
dengan menulis di tepian amplopnya, 'For you'.
Tapi pak pos bilang aku butuh menuliskan alamatnya, agar kelak
bisa sampai. Embun dikeningku muncul setiap memikirkannya.
'Alamat?' Tanyaku kembali
'Tentu nona' Begitu mudahnya dia menjawab. Begitu terbalik buatku.
'Bapak tahu Tuhan tinggal dimana? Yang kutahu Dia didalam hatiku.
Perlukah aku menulis hati disana? Karena dia sedang bersama Tuhan.'
'Apa?' Kini justru giliran kening pak pos yang mengembun mendengar
jawabku
'Lupakan, biar kutitipkan pada merpati di mimpiku saja.' Kurenggut
kembali surat itu dari genggamannya.
Sedang kangen padamu, sedang melakukan hal bodoh yang sama.
Berulang-ulang dan tak juga bosan.
Apa kau baik-baik saja disana? Apa menyenangkan sekali berada
diantara bintang-bintang? Sedang aku disini masih saja bermimpi tentangnya.
Tentang bintang-bintang itu, memilah, yang mana yang sedang kau
singgahi.
Berharap aku bisa jadi kupu-kupu malam ini, terbang
mendekatimu.... Walau tak mungkin sampai.
Kau benar semua yang 'Hidup' memiliki keterbatasan. Bahkan tentang
sebuah kerinduan.
Dari seseorang yang tak berani menatapmu,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar